Kafispolgama - Keluarga Alumni Fisipol - Universitas Gadjah Mada

Update News » Detail

under re-construction

Refleksi Taufiq Effendi

Jumat, 16 Mei 2008

Refleksi Taufiq Effendi

Kembali ke Jati Diri Bangsa

 Bangsa besar yang bernama Indonesia ini terbungkuk dibebani oleh masalah kerawanan sosial dan disintegrasi. bangsa ini berada di ujung kebangkrutan dilanda krisis ekonomi, krisis moral dan krisis kepercayaan. Ditambah lagi beban bangsa tertatih-tatih melakukan rekonstruksi dan recovery social akibat bencana yang bertubi-tubi. Bulan Mei 2008 adalah seratus tahun peringatan hari Kebangkitan Nasional, Delapan puluh Tahun Sumpah Pemuda dan Sepuluh Tahun reformasi. Setiap tahun diperingati, namun belum mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa. Wajah bangsa pun berubah akhir-akhir ini. Eforia kebebasan telah melunturkan nilai-nilai etika. Bangsa ini telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang beradab, santun dan toleran. Disana-sini bermunculan konflik sosial. Demo, kerusuhan, tawuran warga pecah dimana-mana.Taufiq Effendi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara merefleksikan perjalanan bangsa ini. Berangkat dari persoalan kebangsaan, ia lugas mengeluarkan pemikiran-pemikirannya mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh bangsa ini ke depan.“Seratus Tahun Kebangkitan Nasional kali ini semestinya dimaknai sebenar-benarnya untuk mengukuhkan kembali nilai-nilai dan jati diri bangsa. Aktualisasi kebangkitan saat ini seharusnya adalah pada bagaimana peran para pemimpin untuk membawa semua warga ikut memberikan kontribusi menegakkan perjalanan bangsa yang terseok-seok.” ungkap Taufiq membuka dialog kami siang itu.“Jika kita mau belajar dari masa lalu, bangsa ini mulai bangkit pada saat masyarakat ini masih sangat tradisional, berada dalam suasana penjajahan. Dengan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan yang sangat rendah, namun bisa mengusir penjajah. Jika kita menginginkan zaman baru bagi bangsa Indonesia, maka para pemimpin yang berjiwa negarawan sangat didambakan kemunculannya saat ini. Inilah yang musti menjadi bentuk konkrit Kebangkitan Nasional saat ini. Itu hanya bisa dimulai dari para Pemimpinnya, disegala bidang!” 

Kesalahan diagnosa

 Menurut Taufiq untuk memulai suatu era baru, harus dimulai dengan keyakinan “Memulai suatu hal harus didasari oleh suatu keyakinan bahwa kita semua seluruh lapisan masyarakat bahwa Indonesia bisa maju. Tidak ada satu bagian masyarakat manapun yang tidak menghendaki Indonesia ini maju, ini keyakinan saya,” tegasnya.Taufiq mengatakan bahwa masalah-masalah bangsa ini disebabkan diagnosa-diagnosa yang berbeda-beda yang malahan banyak menghabiskan energi untuk pertengkaran. Taufik menduga ada sebuah skenario besar justru dari dalam bangsa ini sendiri agar perbedaan diagnosa-diagnosa itu tetap ada. Taufiq menunjukkan bahwa sejarah jangan sampai terulang kembali, “Sejarah sudah memberikan pelajaran berharga bagi bangsa ini, kalau ada kerajaan yang kuat pasti dihancurkan justru dari dalam sendiri. Contohnya Majapahit, Sriwijaya dan Mataram, semua hancur bukan karena musuh tapi karena pengkhianatan bangsa sendiri. Apalagi yang akan kita lakukan?” “Ayo kita masuk ke sebuah “kemah besar” untuk bersama-sama membahas dengan seksama dan melakukan diagnosa bersama dari faktor eksternal maupun internal. Kita tidak perlu malu untuk belajar dari, misalnya kerajaan Belanda, Jepang dan Malaysia yang dipimpin oleh raja dan anak turunannya, sudah seribu tahun sampai hari ini masih ada kerajaan itu,” lanjutnya. Menurut Taufiq menghadirkan rasa malu serta berani mengkritisi diri sendiri adalah hal penting. “Berani refleksikan diri dan membandingkan dengan, misalnya Jepang yang yang tanahnya sangat kecil itu, dan delapan puluh persen pegunungan yang tidak menghasilkan apa-apa tetapi bisa menjadi negara terkaya nomor dua di dunia,” katanya.Taufiq menegaskan bahwa bangsa ini harus berani mempelajari hal-hal apa yang mendorong bangsa-bangsa seperti Australia, Amerika, Malaysia, New Zealand. Mereka jauh lebih maju bukan karena memiliki kekayaan alam. Contohnya, Swiss yang tidak menanam sebatang pohon coklat pun dapat bisa menjadi negara pengekspor coklat terbesar didunia. Taufiq juga selalu menegaskan bahwa usia negara-negara tidak sebanding lurus dengan kesejahteraannya.“Mengapa katarak kehidupan ini dibiarkan tumbuh subur tanpa seorang pun yang berpikir ingin menguak katarak ini!” ujarnya puitis.

Menurut Taufiq, bangsa ini terlalu asyik masuk memikirkan dirinya masing-masing. Taufik mengungkapkan salah satu hal yang menurutnya aneh, “Saya tidak pernah berpikir kalau mantan Kapolda malah menjadi Kapolsek, saya tidak bisa mengerti apa yang dicari, itu.” ujarnya bagi mereka yang rela “turun pangkat”.

 

Kebangkitan penegakan hukum

 “Kebangkitan bangsa dalam bidang hukum, musti juga diresapi lagi. Mengapa timbul kesan, sekarang ini malahan upaya penegakan hukum dengan cara-cara yang tidak berdasarkan hukum dan keadilan. Untuk jangka panjang justru akan mengkhianati hukum itu sendiri” ujarnya. “Penegakan hukum tujuan utamanya bukan hanya penangkapan saja, penangkapan itu hanya alatnya. Yang harus dituju dalam penegakan hukum adalah membangun masyarakat yang taat hukum (law obedience citizen).” Tandas Taufiq mencermati agenda-agenda penangkapan yang sedang marak terjadi.“Semestinya kita harus sedih dan malu. Kalau sampai bangga, itu konyol! Karena ini menunjukan ketidakberhasilan dalam penerapan budaya hukum masyarakat. “Nah apa otak kita ini sudah terbalik? Bangga akan ketidakberhasilan?” terangnya. Menurut Taufiq, mustinya bangsa ini bisa segera mengubah mind set. Misalnya kalau udah sholat, berarti sudah selesai ibadah itu, padahal bukan itu. Sholat mempunyai akhlakul karimah yang dituju, bukan hanya sekedar ritual solatnya saja.  

Kebangkitan bangsa Indonesia harus dimaknai dengan kewaspadaan

Bangsa ini musti waspada terhadap “Penyesatan-penyesatan logika, seperti contoh Demokrasi, dimana arti demokrasi sebenarnya adalah kebebasan untuk berpendapat bukan kebebasan bertindak apa saja. Dan sekarang sudah seperti rahasia umum bahwa demo menjadi bagian dari demokrasi. Seharusnya adalah berpendapat boleh tapi jangan memaksakan pendapat, meyakinkan boleh tapi jangan mengintimidasi. Sehingga demokrasi ini justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang sebetulnya anti demokrasi. Saya ingat pepatah lama, siapa menggali lubang dia sendiri terjerumus kedalamnya”. Taufiq menambahkan dengan ekspresi gemas. 

Kebangkitan bangsa dan otonomi daerah

Otonomi daerah memang menghasilkan kebaikan dan kekurangan. Taufiq Efendi, dalam menyikapi otonomi ini berharap agar roh dan filosofi otonomi dikembalikan kepada tujuan asalnya yaitu mensejahterakan masyarakat dengan mendekatkan pemerintah kepada masyarakatnya. “Hakikat dari otonomi daerah adalah bahwa penyelenggara negeri ini harus lebih dekat kepada rakyat! Agar rakyat mendapatkan pelayanan lebih baik. Sebagai contoh, kalau saya punya anak sekolah di Jogja kemudian supaya makan minumnya tidak keteteran maka saya titipkan kepada teman saya, mas iki titip anakku ya!” ungkap Taufiq menggambarkan. “Nah, otonomi daerah harusnya seperti itu! Dimana otonomi daerah bukanlah pembagian kekuasaan melainkan adalah pembagian tugas.” Taufiq pun bertanya, “Mengapa rakyat menghendaki ada pemekaran daerah baru lagi? Karena adanya harapan agar hidupnya jadi lebih baik, dilayani dengan baik, anaknya bisa sekolah, ada lapangan pekerjaan”. “Jadi pesan saya kepada para Pemimpin  Bangsa di Daerah dimanapun di seluruh Indonesia, para Kepala Daerah dan jajarannya adalah, jangan kecewakan rakyat!” 

Jati diri dan tanggung jawab

Taufiq menyimpulkan yang hilang dari Indonesia adalah berani bertanggung jawab. Ia mencontohkan bagaimana hilangnya tanggung jawab ini pada diri orang Indonesia, mulai daripada hal yang paling rendah seperti penjual makanan yang sudah tidak peduli walaupun ia menaruh racun didalamnya. “Bayangkan, mereka tahu bahwa mereka memakai borax dan menjual baksonya pada anak-anak sekolahan. Mereka tahu bahwa mereka menggunakan pengawet mayat untuk mengawetkan ikan asin yang dijual untuk manusia-manusia hidup!”“Contohnya lagi, coba lihat, orang yang bertugas membuat sertifikasi kendaraan malah lebih lama ngurus suratnya daripada uji teknisnya,” kata Taufiq, sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Sebenarnya bangsa ini sudah mempunyai jati diri sendiri,” Ujar Taufiq. “Hanya jati diri bangsa ini seakan sudah mati. Jati diri bangsa terdiri dari lima hal, yaitu: Pertama, kita adalah bangsa yang agamis, kedua, menghormati HAM, ketiga, mencintai tanah air, keempat, bangsa demokratis tetapi bukan liberal dan kelima, berjuang untuk kesejahteraan umum.                                                       (ndy)

 
Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonu my eirmod tempor invidunt ut Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonu my eirmod tempor invidunt ut (more)